Jumat, 27 Desember 2013

Balas dendam yang Baik

Hah... Entah apa yang terfikir dalam benakku. Hingga kini Proposal tesisku belum aku lanjutkan untuk menulisnya. Menulispun rasanya tidak mudah, karena bahan yang aku inginkan belum datang, bahkan belum aku beli. Menulis tentang Indonesia pada masa penjajahan Jepang sepertinya tidak mudah. Telah ada beberapa buku yang membahas tentang hal itu. Namun, mereka kebanyakan adalah orang luar, dalam hal ini bukan orang Indonesia. Jikapun ada yang telah menulis tentang Indonesia pada masa Jepang tentu itu akan menjadi sebuah tantangan bagiku untuk lebih baik darinya. 
Bahan atau referensi yang bisa menunjang untuk sebuah karya representatif sepertinya masih minim, atau karna ketidaktahuanku tentang bahan yang ada. Siapapun nanti yang menjadi pembimbingku aku siap, walaupun yang mungkin dianggap orang susah. Akupun pernah bimbingan kepada orang yang katanya susah, namun aku mampu untuk menyesuaikannya. Menjadi tertantang jika mendapatkan pembimbing yang super. Walaupun sebenarnya aku ingin cepet selesai, karena ibuku telah menunggu dan aku harus melanjutkan apa yang telah dirintis oleh orang tuaku. Walaupun ada sedikit rasa kecewaku pada saudaraku. 
Kekecewaan itu tentu mempunyai alasan yang rasional dan berdasarkan rasa keadilan. Aku dan dia sama-sama anak dari ayah, walaupun aku beda ibu. Alasannya Ibu dia yang banyak membeli tanah pada saat dengan ayah, dan ibuku tidak banyak membeli tanah saat hidup dengan ayah. Oke, kalo itu yang menjadi alasanmu aku terima, namun apakah lahan yang ada bisa menghasilkan jika tidak diolah tentu tidak. 
Kini saat tanah yang ada telah menjadi tanah yang menghasilkan dia ingin menguasainya semua. Ada keinginan untuk menyingkirkan aku dan ibuku. Ada alasan yang aneh mengapa dia mengiginkan tanah yang banyak, alasannya selama dia berumah tangga tidak minta. Hah.. Iya tidak minta, tapi membawa dan mengambil. Tidak punya beras, anaknya disuruhnya minta, memang dia tidak minta, tapi anaknya minta, kan sama saja. Namun, dia tidak sadar bahwa dia telah beberapa kali diingatkan oleh ayah, untuk tinggal didekat ayah, namun ai tidak mau. Lalu apakah ini yang dinamakan tidak meminta. Sudah dikasih saran sama orang tua tidak menuruti, eh sekrang setelah ayah tidak ada minta harta yang banyak. 
Ha... menang manusia terkadang lupa akan rasa syukur. Kini dia telah tinggal didaerah yang sama dengan Ibu. Namun, dia tidak menghargai ibuku. Listrik ibukku yang suruh bayar, padahal dia yang banyak pemakaian. Ada lagi untuk membuat rumah buat dikuburan itu masih dibebankan kepadaku dan ibuku. Tidak rasional, dia yang banyak minta harta warisan, eh... malah aku yang dibebani untuk membuat bangunan diatas makam ayah. Sebenarnya aku tidak ingin membangun bangunan itu, karena itu dilarang oleh agama, dan akupun mempunyai alasan yang sosialis, yaitu jika diatas amakam didirikan bangunan tentu tidak bisa untuk dipakai yang lain lagi, sedangkan yang meninggal tidak hanya kita, orang-orangpun akan meninggal. Akan tetapi aku males untuk ribut dengan saudara, jadi aku sanggupi untuk membuatkan bangunan bagi ayah, tapi aku rencanakan setelah aku selesai menjalankan amanah dari ayah, yaitu merampungkan S2ku. 
Berbicara tentang amanah, aku jadi inget tentang sifat munafik yang dia miliki. sabda Rasulullah Saw :

Qaala Rasulullah Saw :
"Aayatul Munaafiqi Isalaatsun : Idzaa Haadatsa Kad Dzaba wa Idzaa Wa Ada Akhlafa Wa Idzaa Tumina Khana". (HR. Bukhari dan Muslim dari abu hurairah)

Artinya :
Sabda Rasulullah Saw :
"Tanda-tanda orang munafik ada tiga macam yaitu :
1. apabila ia berbicara berdusta
2. apa bila berjanji ingkar dan
3. apabila dipercaya khianat." (HR. Bukhari dan Muslim dari abu hurairah)
 
Aku mempunyai alasan mengapa aku bilang seperti ini. Pertama, apabila dipercaya khianat: dia diberi amanah(kepercayaan) untuk kuliah tidak diselesaikan, dan tidak memberitahu kepada orang tua. tidak hanya itu, dia dikasih amanah untuk memupuk padi ibuku malah dipupukkan kesawahnya sendiri tanpa ada pemberitahuan. Kedua, apabila ia berbicara berdusta, dia banyak menebarkan dusta kepada orang-orang. Dia mengatakan bahwa yang meminta membagi warisan adalah ibu dan aku, padahal dia sendiri, hal itu terjadi setelah satu minggu setelah ayah meningal ia langsung meminta membagi warisan. Ketiga, apabila berjanji ingkar. Dulu pada saat pembagian warisan pertama, ia berjanji hasil dari tanaman yang ada akan di bagi menjadi dua, yang terjadi tidak, hasil dari kepala sawit ia minta sendiri, bahkan sebelum dipetik sudah diminta uangnya terlebih dahulu. Tentu aku tidak berlebihan jika menyebut saudaraku itu orang munafik, karena dari tiga tanda-tanda orang munafik itu ada dan melekat padanya. 
Aku, berkeyakinan aku akan lebih baik dari dia. Akan aku tunjukkan bahwa dia salah menilaiku. Dengan menunjukkan itu aku seakan membalas dendamku dengan berbuat lebih baik dari padannya.
Hmmmmmmmm.........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar