Tampilkan postingan dengan label Uneg-unegku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uneg-unegku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 April 2014

Menilik Ulang Lirik Lagu Koes Plus "Nusantara"



Kuharap kau tidak akan cemburu….melihat hidupku
Hidupku bebas selalu kawanku….tiada yang memburu oh
Di Nusantara yang indah rumahku….kamu harus tahu
Tanah permata tak kenal kecewa….di khatulistiwa
Hutannya lebat seperti…..rambutku
Gunungnya tinggi seperti…..hatiku
Lautnya luas seperti….jiwaku
Alamnya ramah seperti….senyumku”
Terbentang luas di bumi persada….di khatulistiwa kau berada
Walau terpisah tetap satu jua…..itulah Indonesia..
Berbagai suku dan bahasanya….beraneka ragam agamanya
Namun tetap damai dan sentosa…itulah Indonesia..
Desah nafasku detak jantungku…hanya untuk nusantaraku…
Merah darahku putih tulangku…hanya untuk nusantaraku
Di bawah naungan Pancasila…kau megah dimata dunia…..
Dari barat sampai ke ufuk timur…terpencar luas tanah yang makmur….
Tekad rakyatnya tak pernah luntur….hiduplah Indonesia “[1]

Lirik diatas sangatlah indah untuk di dengar
Seperti itulah seharusnya Indonesia ini
Tapi, apakah bener sekarang indonesia seperti lirik di atas?
Sepertinya tidak mirip sama sekali...
Mungkin akan mirip atau bahkan sama jika liriknya dirubah seperti ini

Kuharap kau akan cemburu….melihat hidupku[2]
Hidupku bebas selalu kawanku….tiada yang memburu oh
Di Nusantara yang gersang rumahku….kamu harus tahu
Tanah permata meninggalkan kecewa….di khatulistiwa
Hutannya dibabat seperti…..rambutku yang gundul
Gunungnya tinggi seperti…..janji wakilku
Lautnya luas seperti….jaringan korupsi dinegeriku
Alamnya marah seperti… rakyatku”
Terbentang luas di bumi persada….di khatulistiwa kau berada
Walau terpisah tetap satu korupsi jua…..itulah Indonesia..
Berbagai sektor dan jabatanya….beraneka ragam korupsinya
Namun tetap ramai dan semrawut…itulah Indonesia..
Desah nafasku detak jantungku…hanya untuk menagih janji wakilku…
Merah darahku putih tulangku…hanya untuk bersihnya negeriku
Di bawah naungan Pancasila…kau serakah dimata dunia…..
Dari barat sampai ke ufuk timur…terpencar luas tanah yang gundul….
Tekad rakyatnya tak pernah luntur….hiduplah Indonesia “

Jika seperti itu sepertinya pas untuk mengambarkan Indonesia saat ini. [3]

Yogyakarta,20 Desember 2011



[1] Lagu Koes Plus "Nusantara"
[2] Mungkin itulah kata-kata yang keluar dari para wakilku di Senayan. Kata-kata itu ditujukan kepada rakyat-rakyat marginal, yang masih hidup dibawah garis kehidupan cukup.
[3] Coretan ini terinspirasi dari keadaan pada saat ini. Masihkan Indonesia seperti yang ada dalam lirik lagunya Koes Plus? Dan jawabnya ternyata TIDAK.

Percakapan tanpa Awalan




Hari ini entah apa yang terjadi pada dariku, Berawal aku bangun jam 05.30 WIB, Lalu melanjutkan kembali tidurku,dan terbangun kurang lebih jam 08.30 WIB. Membuka-buka skripsi yang telah lama aku diamkan. Setelah aku munaqosah tangal 13 Desember 2011, seperti yang aku prediksi begitu banyak coretan dari sang profesor, dan coretan dari Ibu Maemunah tak begitu banyak.
Sekitar jam jam 09.00 HPku bergetar, aku lihat ternyata ada sms dari salah satu temenku fitri namanya:
"Mamas, aku di depan kosmu. cepat keluar"
Begitu isi dari sms itu...
Aku ingat kalau dia mau meminjam buku panduan skripsi
Kubawa buku itu dan ku berikan dengan sedikit candaan
Karna bukunya telah aku berikan ingin kembali masuk kos
Hal yang terduga terjadi ia memberikan sebuah kotak yang bertuliskan jog chik
Kotak itu aku terima dan masuk kekos dan iapun pergi.
Aku kembali ke kamar tak lama kemudian HPku berbunyi kembali, ternyata dari temenku Ari Suminto...
"Jo nong kos ora" begitu isi smsnya.
Setelah aku membalasnya aku kembali membolak-balik skripsiku
Tak lama Ari Suminto datang ke kamar
Dan tak lama pula HPku berbunyi....
Aku tak mengenal no itu karna baru di HPku...
Ternyata dari temenku di MAN Wahid namanya...
Lama aku ngobrol dengannya sekitar satu jam
Entah ngomongin apa ngalor-ngidul... Mulai dari kegilaan dulu sewaktu MAN, temen-temen, nikah dan lain-lain. Setelah wahid menutup telp sebenarnya aku ingin mengetik refisi. Namun rasa malas menyelimutiku disamping itu masih ada Ari Suminto, aku merasa tidak enak kalau aku nyuekin...Akhirnya ya hanya ngobrol masalah skripsi, Cerita masalalu dan suara azanpun terdengar. Karna aku sudah laper aku makan makanan yang diberikan oleh fitri...
Aku menawarkan ke Ari tapi dia bilang "wes di pangan ae", karna dia sudah bilang seperti itu aku ya makan dengan masih mengobrol dengannya...Tak lama Ari pulang, aku mengantarnya sampi depan kos. Aku balik dan melakukan ibadah.
Suasana kos sepi aku sendiri sedang tidak ingin ngapa-ngapain, ujung-ujungnya aku merebahkan badanku sebelumnya aku memutar lagu-lagu dari RCM. Aku terbangun jam setengah 4, perutku terasa sakit dan aku kebelakang didalam ruangan sekecil itu fikiranku berkecamuk.
Aku ingin potong rambut tapi, hujan. ngak potong kepalaku sudah berat rasanya. padahal aku itu sudah membawa peralatan mandi. akhirnya aku putuskan untuk potong rambut. pulang potong rambut aku singah di warung sambil menonton tv sampai magrib tiba. aku pun mandi dan melakukan ibadah, setelah itu aku melibat baju-dan celanaku yang telah lama terbengkalai. setelah itu aku makan malam di angkringan. kembali kekamar dan hanya memutar-mutar musik pada winamp.sekitar jam sembilan farid datang dan mengajakku kembali keangkringan, diangkringanpun fikiranku berperang entah apa yang aku fikirkan. akhirnya pulang kembali dan menulis ini.

Yogyakarta, 19 Desember 2011

Senin, 31 Maret 2014

Ada Makna dari Hari Raya Idul Adha



Sholat Idul Adha telah berakhir beberapa menit
Beramai orang berbondong menuju rumahmu
Demi mengapai Rahmatmu Oh..Tuhanku
Lebaran Idul Adha
Kebanyakan orang Indonesia lebih mengenal dengan hari raya kurban
Tidaklah menjadi hal yang aneh,karena banyak orang berkurban
Sapi, kambing atau sejenisnya
Dalam benakku terbesit pertanyaan
Apakah lebaran Idul Adha cuma identik dengan orang berangkat haji
dan orang berkurban
Tentu tidak hanya itu jawabku juga
Masih menurutku juga, hari raya kurban atau korban atau apa namanya
Tidak hanya identik dengan pemotongan hewan kurban,
Ibadah haji atau bahkan menyate atau sejenisnya
Ada makna yang tergali dari peristiwa ini
Jika dahulu Qobil dan Habil memberikan kurban
untuk Tuhan demi jodoh atau apa namanya
Kemudian Nabi Ibrahim mendapat isyarat lewat mimpi
untuk menyembelih anaknya yaitu Ismail
Itu semua tidak lain dan tidak bukan adalah bukti ketaatan umat pada sang pencipta
Hari raya Idul adha atau hari raya kurban
Kalau menurutku ada hal tang ingin di ungkapkan
Tahukah apa itu?
Banyak hal yang bisa menjadi contoh
Kita meluangkan sejenak dalam kesibukan untuk sholat jika telah waktunya
Kita meluangkan waktu untuk sholat di Masjid
Dan banyak hal-hal kecil yang seakan sepele akan tetapi membutuhkan pengorbanan
Contoh lain jika kita sedang berkendara ada orang ingin melintas berhentilah sejenak
Hal itu bisa di artikan berkurban...
Dan masih banyak lainnya
Jadi lebaran Idul Adha tidak hanya identik dengan orang-orang berhaji, menyembelih hewan kurban
Ada hal yang ingin di ungkapkan Tuhan lewat Perayaan ini...
Itu Menurutku....

Yogyakarta, 06 November 2011

Senin, 17 Maret 2014

Dilema Pemilih



Masa kampanye terbuka Partai Politik yang dimulai dari hari minggu 16 Maret sampai 5 April 2014 diharapkan berjalan dengan damai. Duabelas (12) Parpol akan memaksimalkan waktu yang ada untuk memperoleh suara pada pemilihan umum pada 9 April mendatang. Pada kampanye setiap Partai tentu akan memberikan janji-janji manis pada calon pemilih. Tujuannya adalah supaya pemilih memilih Caleg (Calon Legislatif) yang diusung oleh setiap Partai yang berkampanye. Berbagai macam cara dilakukan dalam berkampanye yang penting bisa mensosialisasikan program kerja (saya menyebutnya janji manis) kepada khalayak ramai.
Setiap Partai Politik tahun ini seakan bersepakat untuk menggunakan kata “perubahan” dalam setiap kampanye yang dilakukan. Alasanya bisa dimungkinkan karena melihat kinerja dari Partai Penguasa sekarang tidak sedikit yang tersangkut masalah korupsi. Hal itu mungkin yang menjadi dasar mengapa sebagian besar Parpol peserta Pemilu mengunakan jargon perubahan. Memang yang diinginkan oleh masyarakat (dalam hal ini pemilih) adalah adanya perubahan dalam segala aspek sosial dan kemasyarakatan.
Masyarakat sebagai pemilih tentu harus pintar dalam menentukan Caleg (Calon Legislatif) dari Partai apa yang dapat mewakili suaranya dalam Parlemen mendatang. Jika tidak ingin terpengaruh oleh nama Partai tentu harus memilih sosok yang benar-benar mampu bersuara lantang demi kepentingan rakyat. Pemilih tidak harus berpatokan pada Partai yang berbau agama, yang terpenting adalah mampu mewakili suara rakyat.
Ada yang berfikiran bahwa Caleg (Calon Legislatif) adalah mereka yang mencari kerja atas nama suara rakyat. Hal itu tentu beralasan jika melihat dari beberapa oknum anggota dewan yang melakukan korupsi. Tentu tidak hanya pada pemilihan Caleg (Calon Legislatif) kali ini banyak dari kalangan bawah yang mencalonkan diri untuk duduk dikursi Parlemen. Tidak ada maksud sama sekali untuk memandang sebelah mata Caleg dari kalangan bawah, namun perlu difikirkan lagi untuk mencalonkan diri sebagai wakil rakyat dengan hanya bermodalkan keinginan untuk melakukan perubahan. Tujuannya sangat baik dan perlu diapresiasi, namun sepertinya tidak mudah jika hanya bermodalkan keinginan. Setiap warga negara Indonesia ingin melakukan perubahan, akan tetapi dibutuhkan kepandaian dalam berfikir, bernegosiasi, menyusun program kerja dan bagaimana pelaksanaan program tersebut.
Dan tidak sedikit masyarakat berfikiran untuk melakukan gerakan Golput (Golongan Putih) karena melihat kinerja para wakilnya 5 (lima) tahun kemarin. Seperti ada dilema dalam hati pemilih apakah dia harus mimilih atau Golput. Jika memeng harus memilih tentu jangan melakukan kesalahan yang sama seperti yang telah terjadi saat ini. Dan jika harus Golput ada kekhawatiran akan seperti apa Negara ini jika kebanyakan masyarakat melakukan gerakan Golput.
Untuk mengetahui lebih banyak masyarakat yang Golput atau yang memilih kita tunggu saja pada tanggal 9 April mendatang. Perlu kerja keras dari semua partai untuk meyakinkan pemilih supaya tidak Golput. Tentunya dengan cara memberikan bukti bukan janji Manis.