Kamis, 02 Januari 2014

Mengapa Harimu?



Mengapa harimu kau isi dengan tanggis? [1]
Mengapa harimu kau isi dengan duka?
Mengapa harimu hanya kau penuhi dengan beban?
Tumpahkanlah air matamu pada pundakku
Luapkanlah bebanmu pada mukaku
Buanglah bebanmu lewat tawamu
Janganlah kau simpan tanggismu pada matamu yang indah
Janganlah kau timbun dukamu pada fikiranmu
Janganlah kau tabung bebanmu pada hatimu
Curahkanlah, buanglah, dan taburkanlah
Semua rasa keluh kesah, Semua derita dan duka, Semua berat bebanmu
Pada kawan, sahabat, atau orang yang bias kau pegang kata-katanya
Bila kau masih tak percaya
Tumpahkanlah semua masalahmu pada hembusan angina
Tumpahkanlah semua berat bebanmu pada teriknya mentari
Tumpahkanlah semua derita dukamu pada debur ombak
Jika semua itu masih enggan kau percaya
Curahkanlah pada sang khalik
Niscaya semua derita, beban, dan dukamu hilang
Tumpahkanlah semua itu dengan tangisanmu padaNya.

Yogyakarta, 22 April 2011




[1] Coretan ini tertulis karena, seseorang yang hari-hari sebelumnya menghiasi hidupnya dengan tawa kini hanya menggisi hari-harinya dengan merenung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar