Mengapa
harimu kau isi dengan tanggis? [1]
Mengapa
harimu kau isi dengan duka?
Mengapa
harimu hanya kau penuhi dengan beban?
Tumpahkanlah
air matamu pada pundakku
Luapkanlah
bebanmu pada mukaku
Buanglah
bebanmu lewat tawamu
Janganlah
kau simpan tanggismu pada matamu yang indah
Janganlah
kau timbun dukamu pada fikiranmu
Janganlah
kau tabung bebanmu pada hatimu
Curahkanlah,
buanglah, dan taburkanlah
Semua
rasa keluh kesah, Semua derita dan duka, Semua berat bebanmu
Pada
kawan, sahabat, atau orang yang bias kau pegang kata-katanya
Bila
kau masih tak percaya
Tumpahkanlah
semua masalahmu pada hembusan angina
Tumpahkanlah
semua berat bebanmu pada teriknya mentari
Tumpahkanlah
semua derita dukamu pada debur ombak
Jika
semua itu masih enggan kau percaya
Curahkanlah
pada sang khalik
Niscaya
semua derita, beban, dan dukamu hilang
Tumpahkanlah
semua itu dengan tangisanmu padaNya.
Yogyakarta,
22 April 2011
[1] Coretan ini tertulis karena,
seseorang yang hari-hari sebelumnya menghiasi hidupnya dengan tawa kini hanya
menggisi hari-harinya dengan merenung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar