Tahun baru, harga baru, itulah yang terjadi saat ini. Gas lpg 12 kg
harganya melambung dari 85-90 melambung menjadi 122.000, 130.000 dan 13.400,00.
Itu untuk gas LPG 12 Kg, Gas LPg 3 kg pun merasa iri dengan 12 kg, harga awalnya
13.000 menjadi 16.000,00 memang kenaikan gas lpg 3 kg tak signifikan, namun
secara tidak langsung ikut naik.
Dalam laporan pemeriksaan BPK dilaporkan, Pertamina menderita
kerugian hingga Rp 7,7 triliun selama periode 2011-2013. Kerugian ini muncul
setelah Pertamina menjual harga gas Elpiji 12 Kg di bawah harga keekonomian. Sebuah
dilema yang membuat para pejabat pemerintah harus mengkaji ulang kenaikan
tersebut.
Jika dilihat dari laporan BPK tentu hal itu penting untuk menutupi
kerugian yang diderita oleh pertamina. Disisi lain kenaikan harga juga akan
menambah jumlah kemiskinan yang telah ada dinegara ini. Dua persoalan ini tentu
tidak bisa disikapi dengan santai. Diperlukan koordinasi pada pihak-pihak yang
berkaitan dengan bidang perekonomian.
Adanya isu ini tentu bisa menjadi ajang bagi partai politik untuk
menjadikan lahan mencari simpati masyarakat. Ramai-ramai partai politik
menentang kenaikan harga LPG 12 kg. Mulai dari partai pemerintah dalam hal ini partai
koalisi pemerintah dan tentu partai oposisi akan menolak mati-matian kenaikan
ini.
Semua partai ingin menampakkan kebaikannya kepada rakyat, bahwa
partainya membela rakyat. Hal itu tentu ada alasan, karena tahun 2014 adalah
tahun politik. Hal itu tidak bisa dipungkiri oleh semua partai. Setiap partai
ingin mendulang suara sebanyak-banyaknya untuk menguasai parlemen.
Sebuah dilema kenaikan harga GAS LPG 12 Kg ditengah tahun politik
saat ini. Saya mencurigai isu ini diciptakan sebagai sarana untuk mencari
simpati rakyat. Isu ini diciptakan untuk mempertontonkan kepedulian peserta
parpol kepada rakyat. Tapi lagi-lagi itu hanya kecurigaan saya, sebagai rakyat.
Tentu saya berketa seperti itu ada alasannya, tahun ini adalah tahun politik,
dimana April mendatang akan diadakan pemilihan legislatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar