Rabu, 15 Oktober 2014

Anjuran Berwasiat Dengan Persaksi

5. Al Maa'idah
 106. Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu[454], jika kamu dalam perjalanan dimuka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian. Kamu tahan kedua saksi itu sesudah sembahyang (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah, jika kamu ragu-ragu: "(Demi Allah) kami tidak akan membeli dengan sumpah ini harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa."
[454]. Ialah: mengambil orang lain yang tidak seagama dengan kamu sebagai saksi dibolehkan, bila tidak ada orang Islam yang akan dijadikan saksi
42. Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram[418]. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.
[418]. Seperti uang sogokan dan sebagainya
Sumpah dan kaffaratnya

89. Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).


Konsep Akal dalam Epistemologi Ibn Thufail

"sesungguhnya, dalam (proses) penciptaan langit dan bumi dan (proses) pergantian siang dan malam, adalah tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi ulil albab (orang-orang yang berfikir)
(QS 3:190)
"Alam yang tidak bertubuh diketahuilah sudah, dan mata pikiran
memandanglah kedalamnya.(Uber Sokrates)

  1. Pendahuluan

Berfikir, yang adalah suatu proses olah nalar, yang secara essensi adalah agamawi, merupakan suatu proses sunnatullah, yang sudah ada benihnya sejak awal, ketika manusia dihadirkan di bumi. Akal yang merupakan anugerah termahal yang diberikan  khusus oleh Allah kepada manusia yang tidak diberiakan pada makhluk lainnya, adalah agar manusia mampu membaca dan memikirkan segala kejadian dan tanda-tanda kekuasaan Allah.[1]
Islam sendiri memberikan kedudukan tinggi kepada akal, karena akal hanya dimiliki oleh manusia, dan manusia adalah ciptaan terbaik Allah. Allah memerintahkan manusia untuk selalu menggunakan akalnya untuk menyikapi dan membaca tanda-tanda kekuasaan-Nya.[2]
            Dan banyak sekali ayat-ayat al-Qur'an  yang memberikan sugesti dan peringatan kearah pemaksimalan penggunaan akal untuk kemudian sebagi alat handal yang mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk. Permasalahan ini sudah banyak tanggapan dari para filosof Yunani tentang hakekat dan kegunaan akal itu sendiri serta bagaimana seharusnya manusia menyikapi akal agar mendapatkan Ilmu pengetahuan yang orisinal dan ilmiah dan tidak ketinggalan pula di dunia Timur, masalah ini juga menjadi perdebatan sengit di kalangan filosof muslim. Dimana diantaranya adalah filosof Andalusia yaitu Ibn Thufail, yang telah menjelaskan – secara implisit – dalam karyanya yang terkenal yaitu hay ibn Yaqdzan, yang kemudian akan dibahas secara rinci dan mendetel konsep dan pikirannya tentang akal sebagai sebuah refleksi ontologis tanpa mengurangi keobjektipan dan oresinalitas pemikirannya, dan dalam makalah ini penulis juga akan memformulasikan pemikiran Ibn Thufail dengan pemikiran tokoh sebelumnya dan tokoh yang banyak mempengaruhi pemikirannya. Sehingga akan dapat mengambil sebuah kesimpulan yang tepat dan ilmiah. Karena penulis yakin bahwa bagaimanapun juga pemikiran seseorang tentang suatu konsep mesti ada pengaruh dari pemikiran tokoh sebelumnya, maka dari itu sudah menjadi keharusan untuk menyisipi pemikiran tokoh yang representative dan mendukung terhadap penulisan konsep dan pemikiran Ibn Thufail tentang akal.

  1. Biografi Singkat Ibn Thufail
Nama lengkap Ibn thufail adalah Abu Bakr Muhammad ibn 'Abdul Malik ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Thufail al-Andalusi al-Qoisi.[3] Ia lahir pada tahun 506 H/1110 M. [4]  di wadi Asy.[5] Yaitu sebuah kota kecil di Andalusia. Pada masa mudanya beliau tidak terlalu nampak dan terpopuler seperti tokoh lainnya karena ia otodidak yang berbakat. Pada awalnya beliau menekuni ilmu kedokteran dan memiliki banyak tulisan dibidang ini, namun juga banyak yang hilang.[6] Selain sebagai seorang dokter ia juga sebagai seorang filosof, ahli matematika dan ahli penyair yang terkenal dari Muwahid Sapyol. Untuk mengembangkan karirnya di bidang kedokteran Ibn Thufail menjalin hubungan baik dengan kholifah  kerajaan Muwahhidin, dan diangkat menjadi dokter probadinya sejak tahun 588-580 H. dan khalifah Ya'kub berhubungan erat dengan para filosof – dan meminta ibn Thufail untuk menguraikan buku-buku Aristoteles. Untuk memenuhi tugas tersebut ia merekomondasikan ibn Rusdy  untuk pekerjaan ini – dan ia diterima dengan baik. Ketiaka Ibn Thufail meninggalkan jabatannya sebagai dokter pribadi Khalifah, maka jabatan itu digantikan oleh ibn Rusdy.  Banyak sekali karya-karya ibn Thufail tentang bidang keilmuan yang digelutinya, namun yang tertinggal dan sampai pada tangan kita saat ini hanya karya roman fiktif yang berjudul hayy ibn Yaqdzan. Di sinilah inb Thufail mencurahkan pikirannya tentang akal dengan mengampil tokoh; hayy ibn Yaqdzan.  Yang kemudian nanti penulis bahas pikiran-pikirannya dalam karyanya  ini.
Setelah khalihaf Ya'kub meninggal dan di gantikan oleh putranya, yaitu Abu Yusuf, namun  hubungan kekeluargaan antara mereka tetap terjaga, hal itu terbukti ketika abu Yusus menghadiri pemakaman Ibn Thufail di Maroko.

  1. Konsep "Akal" menurut Ibn Thufail dalam karya " hayy ibn Yaqdzan"
Ada  keunikan tersendiri dalam diri ibn Thufail dan meng-konsepsikan akal yaitu mengekplorasikan secara simbolik dalam roman filosofis fiktif hayy ibn Yaqdzan dengan dibentuk sebuah cerita yang mengandung pesan dan kisah tengatang  hayy ibn Yaqdzan sebagai seorang tokoh yang dilambangkan sebagai akal pikiran sedangkan teman-temannya sebagai selera syahwat, perasaan marah dan tabiat-tabiat lainnya yang lazim ada pada manusia.[7]
Dalam bukunya itu ibn Thufail memposisikan Hayy ibn Yaqdzan  sebagai akal faal atau jiwa suci yang berfikir dan akal yang tetap hidup, dan tidak pernah cacat. Walaupun ibn Thufail tidak menkonsepsikan secara gamlang  tentang akal, namun bisa dilihat dari kecenderungannya dalam mengagumi tokoh seperti ibn Bajjah, aristoteles, dan lainnya hingga dapat ditarik kesimoulan bahwa yang dimaksud akal menurut ibn Thufail adalah al-quwwat an-nathiqoh,  yaitu daya jiwa yang berfikir, bersifat dinamis, mengandung unsure ketuhanan dan kekal, walaupun jasad hancur. Jadi akal yang dimaksud ibn Thufail adalah gerak jiwa yang dinamis, bukan statis, yang dapat dikomunikasikan dengan dunia materi.[8]
Dari synopsis karya ibn Thufail itu dapat ditarik kesimpulan bahwa akal menepati peranan penting dalam kehidupan kita dan menempati diposisi paling tinggi.  Hal itu tercermin dari seorang sosok hayy ibn Yaqdzan yang dengan keterasingannya dari masyarakat dan tanpa sentuhan pengalama-pengalaman akademis dan ajaran-ajaran dari luar, ia mampu memahami kebenaran, dan mampu memahami kematian rusa yang tanpa sebab serta mampu mengetahui Realitas Yang Maha Tertinggi. Dengan demikian akal merupakan sumber dari ilmu – ilmu  pengetahuan  yang  merupakan produk dari kegiatan berfikir dan obor yang menerangi kehidupannya.
Bagi ibn Thufail ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan dengan indera, karena pengetahuan bukan hanya proses pemahaman saja.[9]  Dan pada sisi lain di sebutkan bahwa hayy ibn Yaqdzan  akhirnya mencapai pada pengetahuan tentang wujud Mutlak yang sepenuhnya bersifat immaterial. Dengan kejernihan, keluhuran dan ketidak fanaan jiwanya yang juga terkandung di dalamnya essensi dirinya.  Yang kemudian ditemukan tiga akibat dari tiga karakter manusia. Pertama: akibat karakter impulsive dan kebinatangannya, kedua: akibat dengan spritualnya, mampu berhubungan dengan yang di langi, dan ketiga: akibat kekudusan jiwanya, manusia berhubungan dengan Wujud Mutlak.[10]
Dalam gerak yang lebih dalam lagi akal sanggup untuk mencapai sesuatu yang tak berawal dan tak berakhir yang meliputi segalanya, yang dalam gerak hendak memperlihatkan dirinya itu berbagai pengertian tentang kesudahan adalah momen saja. Oleh karena itu watak daras akal itu tidak satatis, tetapi dinamis, beragerak dan menampakkan inti tak berawal dan tak berakhirnya itu pada waktunya.

  1. Konsep Keharmonisan Akal dan Wahyu
Masalah akal sudah banyak mengundang perdebatan antar filosof muslim, dimana hal itu juga banyak mengundang perbedaan pendapat. Begitu pula dengan konsep wahyu, namun para filosof berkeyakinan bahwa antara akal-dan wahyu ada keserasian dan keharmonisan. Begitu juga menurut ibn Thufail, adalah penulis roman hayy ibn Yaqdzan yang terkandung di dalamnya tentang keharmonisan antara akal dan wahyu.
Sebagaiman yang telah di jelaskan di atas bahwa akal menurut ibn Thufail adalah daya berfikir (al-Quwwah an-natiqah), yang dengan sendirinya mampu memahami kebenaran, yang mana tokohnya adalah hayy ibn Yaqdzan sedangkan wahyu adalah pengetahuan Tuhan yang di sampaikan kepada para nabi, kemudian diteruskan kepada manusia sebagai pegangan hidup, dan tokohnya adalah Absal.
Permasalahan pokok yang berkembang pada pembahasan ini yaitudaya jangkau akal dan fungsi wahyu terhadap permasalahan pokok agama yaitu adanya Tuhan serta kebaikan dan kejahatan.  Dan dari dua masalah pokok ini menjadi empat inti pokok yaitu mengetahui Tuhan dan kewajiban mengetahui-Nya, serta mengetahu perbuatan baik dan jahat serta kewajiban mengetahuinya. Permasalahan ini banyak mengundang pertentangan antara aliran teologi Islam.[11] Namun sikap ibn Thufail dalam menanggapi masalah di atas sangat bijaksana, walaupun ia menempatkan akal pada posisi paling atas namun ia juga hidup di budaya wahyu,  yang nantinya akan ditemukan keharmonisan antara keduanya dalam karyanya, yang melambangkan akal dengan hayy ibn Yaqdzan dan wahyu dengan Absal, yang kedua bertemu di titik yang sama yaitu kebenaran.
Jadi antara akal dan wahyu terdapat hubungan yang erat. Kehadiran wahyu merupakan suatu pelengkap dan petunjuk bagi akal.  Adapun pengetahuan yang diperoleh akal dengan pengetahuan yang diperoleh wahyu, menurutnya pengetahuan yang diperoleh akal di bawah pengetahuan yang  diperoleh wahyu, karena pada dasarnya wahyu diturunkan sebagai petunjuk, dan kebenaran akal bersifat relative sedangkan kebenaran wahyu bersifat mutlak.

  1. Kesimpulan
Dari  pemaparan konsep akal dan relevansinya akal dengan wahyu yang digambarkan oleh ibn Thufail dan karya Roman fiktifnya " hayy ibn Yaqdzan" dapat ditarik kesimpulan sebagai beriku:
a.       Menurut ibn Thufail akal adalah al-quwwah an-natiqoh, jiwa yang berfikir atau daya insani yang brsifat dinamis dan selalu berfikir dan berdzikir untuk memahami realitas alam dan dirinya sehingga mencapai pada tingkat yang lebih tinggi yaitu mengetahui Yang Mutlak.
b.      ibn thufail berpendapat bahwa Ada keharmonisan dan hubungan erta yang tidak dapat dipisahkan antara akal dan wahyu, dimana antara satu dan lainnya saling memenuhi, seperti kerelatifan akal dalam memperoleh pengetahuan membutuhkan bimbingan wahyu untuk mengecek pada dataran kebenaran.




DAFTAR PUSTAKA

Kant mengatkan yang dikutip oleh C. A van Peurson,  Orintasi di AAlam Filsafat, Dick Handoko, pen, Jakarta: PT. Gramedia, 1988, hlm. 25.

Madjid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Peta kronologis, Bandung: Mizan, 2002,
Harun Nasution. Akal dan Wahyu dalam Islam, Jakarta: UI Press, 1986, hlm. 86.

Ahmad Fuad al-Ahwani. Filsafat Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995, hlm. 73. terj. Pustaka Firdaus.

Bakhtiar Husain Siddiqy, "Ibn Thufail" dalam M. M Syarif, ed., Para Filosof Muslim, Rahmani Astuti, Bandung: Mizan, 1985, hlm 173.

Wadi Asy Juga Disebut Oleh De Boer Sebagai Qadis Atau Guadix.
A M   Syaifuddin, Desekularisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi, Bandung: Mizan, 1998. hlm. 32-33.








[1]   A. M.    Syaifuddin, Desekularisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi, Bandung: Mizan, 1998. hlm. 32-33.
[2]   Untuk lebih jelasnya perintahtah Allah atas penggunaan akal dan keharusan manusia sebagai makhluknya untuk memanfaatkannya lihat  terjemahan al-Qur'an (QS 16:11) dan QS 16:12)
[3]  Ahmad Fuad al-Ahwani. Filsafat Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995, hlm. 73. terj. Pustaka Firdaus.
[4]  Bakhtiar Husain Siddiqy, "Ibn Thufail" dalam M. M Syarif, ed., Para Filosof Muslim, Rahmani Astuti, Bandung: Mizan, 1985, hlm 173.
[5] Wadi Asy juga disebut oleh De Boer sebagai Qadis atau Guadix.
[6]  Ahmad Fuad al-Ahwani, loc. cit
[7]  dalam leteratur lain, dijelaskan bahwa hayy ibn Yaqdzan dilambangkan sebagai anak manusia yang dengan akalnya dan dibarengi dengan kesucian jiwanya, ia mampu membedakan yang baik dan yang buruk, dan mampu memecahkan masalah dalam kehidupan, hingga pada puncaknya mampu menemukan al-haqiqat al-'Ulya.
[8]  Harun Nasution. Akal dan Wahyu dalam Islam, Jakarta: UI Press, 1986, hlm. 86.
[9]  Kant mengatkan yang dikutip oleh C. A van Peurson,  Orintasi di AAlam Filsafat, Dick Handoko, pen, Jakarta: PT. Gramedia, 1988, hlm. 25. "Akal budi tak dapat menyerap sesuatu dan panca indra tak dapat memikirkan sesuatu; hanya bila kedua-duanya bergabung timbullah pengetahuan, mencerap sesuatu tanpa dibarengi akal budi sama dengan kebetulan, dan pikiran tanpa isi sama dengan kehampaan"
[10] Madjid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Peta kronologis, Bandung: Mizan, 2002, hlm. 105. terj. Zaimul Am. Dan Dari ketiga akibat itu ada tiga tugas pula yang harus di jalaninya: pertama: sebagai bagian dari binatang ia harus memenuhi kebutuhan fisiknya agar bisa bertahan sehingga mampu mewujudkan tujuan utamanya, yakni merenungi Tuhan, kedua: sebai makhluk spiritual dan intektual ia harus merenungi keindahan dan keteraturan alam, dam ketiga: sebagai makhluk yang dekat dengan Tuhan maka ia dalam berkontemplasi sadar akan keterbatasannya, karena jiwa dalam hal itu takkan bisa menghilangkan kesadarannya tentang identitas dirinya dan keakuannya.
[11] Menurut Mu'tazilah keempat permasalahan di atas dapat diketahui oleh akal, sedangkan As-Ariyah berpendapat bahwa hanya satu diantara keempat permasalahan di atas yang dapat diketahu oleh akal yaitu yaitu adanya Tuhan sedangkan ketiganya dapat diketahui melalui wahyu. Dan sangat tanpak bahwa Mu'tazilah memberikan porsi teratas pada akal, karena baginya bahwa akal mampu mengetahuinya walaupun tanpa bantuan wahyu.

Cara Nabi Muhammad Mendidik Anak

14 Cara Nabi Muhammad Mendidik Anak
1.      Rasulullah senang bermain-main (menghibur) dengan anak-anak dan kadang-kadang beliau memangku mereka. Beliau menyuruh Abdullah, Ubaidillah, dan lain-lain dari putra-putra pamannya Al-Abbas r.a. untuk berbaris lalu berkata, “ Siapa yang terlebih dahulu sampai kepadaku akan aku beri sesuatu (hadiah).”merekapun berlomba-lomba menuju beliau, kemudian duduk di pangkuannya lalu Rasulullah menciumi mereka dan memeluknya.
2.      Ketika ja’far bin Abu Tholib r.a, terbunuh dalam peperangan mut’ah, Nabi Muhammad SAW, sangat sedih. Beliau segera datang ke rumah ja’far dan menjumpai isterinya Asma bin Umais, yang sedang membuat roti, memandikan anak-anaknya dan memakaikan bajunya. Beliau berkata, “Suruh kemarilah anak-anak ja’far. Ketika mereka dating, beliau menciuminya. Sambil meneteskan air mata. Asma bertanya kepada beliau karena telah mengetahui ada musibah yang menimpanya.
3.      “Wahai rasulullah, apa gerangan yang menyebabkan anda menangis? Apakah sudah ada beritayang sampai kepada anda mengenai suamiku Ja’far dan kawan-kawanya?” Beliau menjawab, “Ya benar, mereka hari di timpa musibah.” Air mata beliau mengalir dengan deras. Asma pun menjerit sehingga orang-orng perempuan berkumpul mengerumuninya. Kemudian Nabi Muhammad SAW. kembali kepada keluarganya dan beliau bersabda, “janganlah kalian melupakan keluarga ja’far, buatlah makanan untuk mereka, kerena sesungguhnya mereka sedang sibuk menghadapi musibah kematian ja’far.”
4.      Ketika Rasulullah melihat anak Zaid menghampirinya, beliau memegang kedua bahunya kemudian menagis. Sebagian sahabat merasa heran karena beliau menangisi orang yang mati syahid di peperangan Mut’ah. Lalu Nabi Muhammad SAW. pun menjelaskan kepada mereka bahwa sesungguhnya ini adalah air mata seorang kawan yang kehilangan kawannya.
5.      Al-Aqraa bin harits melihat Nabi Muhammad SAW. mencium Al-Hasan r.a. lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai sepuluh orang anak, tetapi aku belum pernah mencium mereka.” Rasulullah bersabda, “Aku tidak akan mengangkat engkau sebagai seorang pemimpin apabila Allah telah mencabut rasa kasih sayang dari hatimu. Barang siapa yang tidak memiliki rasa kasih sayang, niscaya dia tidak akan di sayangi.”
6.      Seorang anak kecil dibawa kepada Nabi Muhammad SAW. supaya di doakan dimohonkan berkah dan di beri nama. Anak-anak tersebut di pangku oleh beliau. Tiba-tiba anak itu kencing, lalu orang-orang yang melihatnya berteriak. Beliau berkata, “jangan di putuskan anak yang sedang kencing, buarkanlah dia sampai selesai dahulu kencingnya.”
Beliau pun berdoa dan memberi nama, kemudian membisiki orang tuanya supaya jangan mempunyai perasaan bahwa beliau tidak senang terkena air kencing anaknya. Ketika mereka telah pergi, beliau mencuci sendiri pakaian yang terkena kencing tadi.
7.      Ummu Kholid binti kho;id bin sa’ad Al-Amawiyah berkata, “Aku beserta ayahku menghadap Rasululloh dan aku memakai baju kurung (gamis) berwarna kuning. Ketika aku bermain-main dengan cincin Nabi Muhammad SAW. ayahku membentakku, maka beliau berkata, “Biarkanlah dia.” Kemudian beliau pun berkata kepadaku, “bermainlah sepuas hatimu, Nak!
8.      Dari Anas, diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW. selalu bergaul dengan kami. Beliau berkata kepada saudara lelakiku yang kecil, “Wahai Abu Umair, mengerjakan apa si nugair (nama burung kecil).”
9.      Nabi Muhammad SAW. melakukan shalat, sedangkan Umamah binti zainab di letakkan di leher beliau. Di kala beliau sujud, Umamah tersebut di letakkanya dan bila berdiri di letakkan lagi dil leher beliau. Umamah adalah anak kecil dari Abu Ash bin Rabigh bin Abdusysyam .
10.  Riwayat yang lebih masyhur menyebutkan, Rasulullah perna lama sekali sujud. dalam shalatnya, maka salah seorang sahabat bertanya,” Wahai Rasulullah, sesungguhnya anda lama sekali sujud, hingga kami mengira ada sesuatu kejadian atau anda sedang menerima wahyu. Nabi Muhammad SAW, menjawab, “Tidak ada apa-apa, tetaplah aku di tunggangi oleh cucuku, maka aku tidak mau tergesah-gesah sampai dia puas.” Adapun anak yang di maksud ialah Al-Hasan atau Al-Husain Radhiyallahu Anhuma
11.  Ketika Nabi Muhammad SAW. melewati rumah putrinya, yaitu sayyidah fatimah r.a., beliau mendengar Al-Husain sedang menangis, maka beliau berkata kepada Fatimah, “Apakah engkau belum mengerti bahwa menangisnya anak itu menggangguku.” Lalu beliau memangku Al-Husain di atas lehernya dan berkata, Ya Allah, sesungguhnya aku cinta kepadanya, maka cintailah dia.
Ketika Rasulullah SAW. sedang berada di atas mimbar, Al-Hasan tergelincir. Lalu beliau turun dari mimbar dan membawa anak tersebut.
12.  Nabi Muhammad SAW. sering bermain-main dngan Zainab binti Ummu Salamah r.a. beliau memanggilnya, “Hai Zuwainib, hai Zuwainib berulang-rulang.”
13.  Nabi Muhammad SAW. sering berkunjung ke rumah para sahabat Anshar dan memberi salam pada anak-anaknya serta mengusap kepala mereka.
14.  Diriwayatkan, pada suatu hari raya Rasulullah SAW. keluar rumah untuk menunaikan shalat ID. Di tengah jalan, beliau melihat banyak anak kecil sedang berman dengan gembira sambil tertawa-tawa. Mereka mengenakan baju baru, sandal mereka pun tampak mengkilap. Tiba-tiba pandangan beliau tertuju pada salah seorang yang sedang duduk menyendiri dan sedang menangis tersedu-sedu. Bajunya kompang-kamping dan kakinya tiada bersandal. Rasulullah SAW, pun mendekatinya , lalu di usap-usap anak itu mendekapya ke dadabeliau seraya bertanya, “mengapa kau menangis, Nak .” Anak itu hanya menjawab, “biarkanlah aku sendiri.” Anak itu belum tahu bahwa orang yang ada di hadapannya itu adalah Rasulullah SAW. yang terkenal sebagai pengasih. “Ayahku mati dalam suatu pertempuran bersama Nabi,” lanjut anak itu. “Lalu ibuku kawih lagi. Hartaku habis di makan suami ibuku, lalu aku di usir dari rumahnya. Sekarang, aku tak mempunyai baju baru dan makanan yang enak. Aku sedih meihat kawan-kawanku bermain dengan riangnya itu.”
Baginda Rasulullah SAW. lantas membimbing anak tersebut seraya menghiburnya, “Sukakah kamu bila aku menjadi bapakmu, Fatimah menjadi kakakmu, Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai pamanmu, Hasan dan Husain menjadi saudaramu?” Anak itu segera tahu dengan siapa ia berbicara. Maka langsung ia berkata, “mengapa aku tak suka, ya Rasulullah?” kemudian, Rasulullah SAW, pun membawa anak itu ke rumah beliau, dan di berinya pakaian yang paling indah, memandikannya, dan memberinya perhiasan agar ia tampak lebih gagah, lalu mengajak makan.


Sesudah itu, anak itu pun keluar bermain dengan kawan-kawannya yang lain, sambil tertawa-tawa sambil kegirangan. Melihat perubahan pada anak itu, kawan-kawannya merasa heran lalu bertanya, “Tadi kamu menagis, mengapa sekarang bergembira?” jawab anak itu, tadi aku kelaparan, sekarang sudah kenyang. Tadi aku tak mempunyai pakaian, sekarang aku mempunyainya, tadi aku tak punya bapak, sekarang bapakku Rasulullah dan ibuku Aisyah.” Anak-anak lain bergumam, Wah, andaikan bapak kita mati dalam perang.” Hari-hari berikutnya, anak itu tetap di pelihara, oleh Rasulullah SAW. hingga beliau wafat.

Jumat, 16 Mei 2014

50 Kebaikan kecil yang bisa kita lakukan

1. Bantu ibu beres-beres di pagi hari.
2. Siram tanaman di rumah sepulang sekolah/kuliah/kerja.
3. Siapkan sarapan buat keluarga.
4. Buat kartu ucapan untuk menyemangati hari-hari orang rumah.
5. Pijitin pundak ayah waktu pulang dari kantor atau iseng pijitin pundak teman.
6. Traktir gebetan makan di kantin.
7. Kasih kado kecil kayak cokelat atau minuman kesukaan dia.
8. Ajak si dia ke tempat favoritnya.
9. Memuji si dia karena sudah melakukan berbagai kebaikan selama ini.
10. Nulis ungkapan perasaan kita lewat surat cinta buat si dia.
11. Berkunjung ke rumah kakek dan nenek sendirian.
12. Ngajak sepupu yang sudah lama enggak ketemuan hangout bareng.
13. Buatkan kue atau cookies buat om dan tante kita.
14. Ajak sepupu atau keponakan kita yang masih kecil main di taman.
15. Bawain makanan buat keluarga jauh.
16. Iseng nyamperin tetangga cuma buat nanya kabar.
17. Ngasih bunga buat tiap orang yang lewat di depan rumah kita.
18. Kirim makanan buatan kita untuk tetangga sebelah rumah.
19. Kasih buku bekas buat pemulung yang kebetulan lewat.
20. Request lagu tambahan buat pengamen dan ngasih dia uang lebih.
21. Menyapa setiap orang yang kita tau tapi enggak kita kenal.
22. Ngasih tempat duduk buat orang lain karena kita enggak lagi terlalu capek.
23. Menyapa semua teman sekelas/sekantor kita dengan SMS atau chat ucapan selamat pagi penyemangat.
24. Membelikan teman kita barang yang selama ini dia pengin tapi enggak pernah sempat kebeli.
25. Mengirim kartu pos buat teman lama yang sudah enggak pernah kontak lagi.
26. Ngajak teman lama kita ketemuan dan mengundangnya ke rumah.
27. Berkunjung ke sekolah lama dan menyapa guru-guru yang pernah mengajar kita.
28. Menyumbang buku-buku asyik buat perpustakaan sekolah lama ataupun sekolah kita yang sekarang.
29. Menyapa penjaga kantin dan memberikan bayaran sebagai tip karena selama ini dia sudah baik sama kita.
30. Membantu penjaga kantin sekolah/OB sebisa kita.
31. Mendekor ulang kamar adik cowok/saudara cowok kita yang super berantakan.
32. Membuatkan adik atau kakak kita makanan yang dia suka.
33. Mengajari adik atau kakak kita hal yang selama ini mereka minta ajarkan dari kita.
34. Membuatkan lagu spesial buat orang-orang terdekat kita.
35. Iseng membelikan makanan buat pengemis di jalan.
36. Menanam tanaman sebagai ucapan terima kasih buat alam.
37. Menjemput adik kecil kita ke sekolah menggantikan ibu kita.
38. Tersenyum lebar dan berlaku baik sama pelayan di kafe atau restoran dan bersikap super friendly.
39. Membuatkan pesta kejutan buat teman yang baru putus buat menghiburnya.
40. Bikin pesta ulang tahun kecil-kecilan buat teman meskipun cuma bermodalkan cupcake dan lilin.
41. Membeli buku dan memberikannya buat teman kita yang suka banget baca.
42. Bikin kado handmade buat wali kelas kita karena selama ini sudah baik sama kita.
43. Ngasih mixtape buat orang-orang yang paling kita sayangi.
44. Pergi ke luar kota cuma buat bertemu saudara yang kita kangenin karena dia lagi ulang tahun.
45. Bantu orangtua kita mencuci dan menjemur baju di akhir pekan.
46. Kasih puisi romantis buat gebetan secara tiba-tiba.
47. Nawarin bantuan buat orang terdekat karena kita memang lagi enggak ada kerjaan.
48. Ngebantuin adik mengerjakan PR waktu dia kesulitan.
49. Kasih pelukan buat sahabat kita meskipun tanpa alasan.
50. Kunjungan dadakan buat pacar waktu dia baru saja bilang pengin ketemu.

Rabu, 30 April 2014

Menerawang Ending dari Kasus Korupsi



Korupsi...
Kata ini tidakah asing bagi setip orang di Indonesia
Karena negara ini sedang boming dengan penyakit itu
Hal ini tidak lepas dari sejarah yang ada dinegara ini
Berawal dari masa penjajahan sampai saat ini
VOC pada masa itupun tidak lepas dari penyakit ini
Masa pemerintahan OrLa pun terjangkit
Apalagi pada masa OrBa pun tidak mau ketingalan
Setelah OrBa tumbang masuklah masa yang katanya masa Reformasi
Penyakit itu tidak mau lepas dari tubuh bangsa ini
Seolah tubuh bangsa ini menjadi wadah yang nyaman untuk penyakit ini
Seakan ada indikasi "simbiosis mutulisme" diantara mereka
Namun apakah iya negara ini akan selamanya begini
Yang kaya makin kaya dan yang miskin semakin menjerit
Sebenarnya ada ngak si yang bisa memberanggus penyakit ini?
Apa ya mungkin harus selamanya negara ini hidup seperti ini?
Apa tidak ada keinginan untuk lebih maju?
Sampai kapan akan terus begini?
Apa mungkin ini penyakit "keturunan" sejarah
Kita bisa melihat sekan seperti itu
Ada pihak yang mau menyembuhkan dijegal
Ada yang mau berterus terang di bungkam
Apakah ini yang dinamakan demokakrasi?
Kebebasan berbicara jujurpun seakan "tidak boleh"
Hal itu bisa terlihat saat ini
Seakan kasus yang muncul sudah bisa ditebak endingnya[1]
Mari kita tengok kasus yang lumayan menghebohkan media
Kasus G.T, endingnya seperti itu
Sebelum kasus GT ada kasus bank Centuri
Hingga kini kasusnya msih Abu-abu
Lalu kasus M.N nasibnya seolah hampir sama dengan kasus GT
Hingga kini nama-nama yang disebutkannya belum diperiksa
Nama-nama yang disebut malah sekan tenang-tanang
Dan masih sempat tersenyum sambir berkata"itu semua tidak benar"
Kasus N*n*npun sepertinya akan sama nasibnya seperti kasus pendahulunya
Namun kita lihat saja seperti apa tindak lanjutnya
Apakah akan sama endingnya dengan kasus pendahulunya?
Atau akan terbuka tabir kepalsuan dinegeri ini
Kita tunggu hasilnya dalam satu bulan ini.  

Yogyakarta, 25 Desember 2011



[1] Coretan ini aku goreskan pada saat aku jenuh dengan nasib bangsa ini. Setaip hari hanya disuguhi berita korupsi yang seakan tidak ada habisnya. “Hilang” satu tumbuh lagi. Entah hilangnya karna dihilangkan atau memang sudah “selesai”. Seolah tidak ada hentinya kasus yang sejenis tumbuh dan mengakar pada bengsa ini. Alasannya sudah jelas, berrawal dari perkulihan sudah belajar korupsi, tapi mereka teriak anti korupsi. Sungguh munafik, didepan bilang tidak dibelakang mana bagian saya. Seperti ini nantinya jika sudah menjadi pejabatpun mereka akan melakukan hal yang sama seperti apa yang pernah dilakukannya pada saat kuliah. Yach begitulah nasib bangsa ini.