42. Mereka itu adalah orang-orang yang
suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram[418]. Jika mereka
(orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah
(perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu
berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu
sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah
(perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang adil.
[418].
Seperti uang sogokan dan sebagainya
|
|||
|
Sumpah dan
kaffaratnya
89. Allah
tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk
bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu
sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh
orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau
memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa
tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga
hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah
(dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan
kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).
|
Rabu, 15 Oktober 2014
Anjuran Berwasiat Dengan Persaksi
Konsep Akal dalam Epistemologi Ibn Thufail
"sesungguhnya, dalam (proses) penciptaan langit dan bumi dan (proses)
pergantian siang dan malam, adalah tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi
ulil albab (orang-orang yang berfikir)
(QS 3:190)
"Alam yang tidak bertubuh diketahuilah sudah,
dan mata pikiran
memandanglah kedalamnya.(Uber Sokrates)
- Pendahuluan
Berfikir,
yang adalah suatu proses olah nalar, yang secara essensi adalah agamawi,
merupakan suatu proses sunnatullah, yang sudah ada benihnya sejak awal,
ketika manusia dihadirkan di bumi. Akal yang merupakan anugerah termahal yang
diberikan khusus oleh Allah kepada
manusia yang tidak diberiakan pada makhluk lainnya, adalah agar manusia mampu
membaca dan memikirkan segala kejadian dan tanda-tanda kekuasaan Allah.[1]
Islam
sendiri memberikan kedudukan tinggi kepada akal, karena akal hanya dimiliki
oleh manusia, dan manusia adalah ciptaan terbaik Allah. Allah memerintahkan
manusia untuk selalu menggunakan akalnya untuk menyikapi dan membaca
tanda-tanda kekuasaan-Nya.[2]
Dan banyak sekali ayat-ayat al-Qur'an yang memberikan sugesti dan peringatan kearah
pemaksimalan penggunaan akal untuk kemudian sebagi alat handal yang mampu
membedakan mana yang baik dan yang buruk. Permasalahan ini sudah banyak
tanggapan dari para filosof Yunani tentang hakekat dan kegunaan akal itu
sendiri serta bagaimana seharusnya manusia menyikapi akal agar mendapatkan Ilmu
pengetahuan yang orisinal dan ilmiah dan tidak ketinggalan pula di dunia Timur,
masalah ini juga menjadi perdebatan sengit di kalangan filosof muslim. Dimana
diantaranya adalah filosof Andalusia yaitu Ibn Thufail, yang telah menjelaskan
– secara implisit – dalam karyanya yang terkenal yaitu hay ibn Yaqdzan,
yang kemudian akan dibahas secara rinci dan mendetel konsep dan pikirannya
tentang akal sebagai sebuah refleksi ontologis tanpa mengurangi keobjektipan
dan oresinalitas pemikirannya, dan dalam makalah ini penulis juga akan
memformulasikan pemikiran Ibn Thufail dengan pemikiran tokoh sebelumnya dan
tokoh yang banyak mempengaruhi pemikirannya. Sehingga akan dapat mengambil
sebuah kesimpulan yang tepat dan ilmiah. Karena penulis yakin bahwa
bagaimanapun juga pemikiran seseorang tentang suatu konsep mesti ada pengaruh dari
pemikiran tokoh sebelumnya, maka dari itu sudah menjadi keharusan untuk
menyisipi pemikiran tokoh yang representative dan mendukung terhadap penulisan
konsep dan pemikiran Ibn Thufail tentang akal.
- Biografi Singkat Ibn Thufail
Nama
lengkap Ibn thufail adalah Abu Bakr Muhammad ibn 'Abdul Malik ibn Muhammad ibn
Muhammad ibn Thufail al-Andalusi al-Qoisi.[3] Ia lahir
pada tahun 506 H/1110 M. [4] di wadi Asy.[5] Yaitu
sebuah kota kecil di Andalusia. Pada masa mudanya beliau tidak terlalu nampak
dan terpopuler seperti tokoh lainnya karena ia otodidak yang berbakat. Pada
awalnya beliau menekuni ilmu kedokteran dan memiliki banyak tulisan dibidang
ini, namun juga banyak yang hilang.[6] Selain
sebagai seorang dokter ia juga sebagai seorang filosof, ahli matematika dan
ahli penyair yang terkenal dari Muwahid Sapyol. Untuk mengembangkan karirnya di
bidang kedokteran Ibn Thufail menjalin hubungan baik dengan kholifah kerajaan Muwahhidin, dan diangkat menjadi
dokter probadinya sejak tahun 588-580 H. dan khalifah Ya'kub berhubungan erat
dengan para filosof – dan meminta ibn Thufail untuk menguraikan buku-buku
Aristoteles. Untuk memenuhi tugas tersebut ia merekomondasikan ibn Rusdy untuk pekerjaan ini – dan ia diterima dengan
baik. Ketiaka Ibn Thufail meninggalkan jabatannya sebagai dokter pribadi
Khalifah, maka jabatan itu digantikan oleh ibn Rusdy. Banyak sekali karya-karya ibn Thufail tentang
bidang keilmuan yang digelutinya, namun yang tertinggal dan sampai pada tangan
kita saat ini hanya karya roman fiktif yang berjudul hayy ibn Yaqdzan.
Di sinilah inb Thufail mencurahkan pikirannya tentang akal dengan mengampil
tokoh; hayy ibn Yaqdzan. Yang
kemudian nanti penulis bahas pikiran-pikirannya dalam karyanya ini.
Setelah
khalihaf Ya'kub meninggal dan di gantikan oleh putranya, yaitu Abu Yusuf,
namun hubungan kekeluargaan antara
mereka tetap terjaga, hal itu terbukti ketika abu Yusus menghadiri pemakaman
Ibn Thufail di Maroko.
- Konsep "Akal" menurut Ibn Thufail dalam karya "
hayy ibn Yaqdzan"
Ada keunikan tersendiri dalam diri ibn Thufail
dan meng-konsepsikan akal yaitu mengekplorasikan secara simbolik dalam roman
filosofis fiktif hayy ibn Yaqdzan dengan dibentuk sebuah cerita yang
mengandung pesan dan kisah tengatang hayy
ibn Yaqdzan sebagai seorang tokoh yang dilambangkan sebagai akal pikiran
sedangkan teman-temannya sebagai selera syahwat, perasaan marah dan
tabiat-tabiat lainnya yang lazim ada pada manusia.[7]
Dalam
bukunya itu ibn Thufail memposisikan Hayy ibn Yaqdzan sebagai akal faal atau jiwa suci yang
berfikir dan akal yang tetap hidup, dan tidak pernah cacat. Walaupun ibn
Thufail tidak menkonsepsikan secara gamlang
tentang akal, namun bisa dilihat dari kecenderungannya dalam mengagumi
tokoh seperti ibn Bajjah, aristoteles, dan lainnya hingga dapat ditarik
kesimoulan bahwa yang dimaksud akal menurut ibn Thufail adalah al-quwwat
an-nathiqoh, yaitu daya jiwa yang
berfikir, bersifat dinamis, mengandung unsure ketuhanan dan kekal, walaupun
jasad hancur. Jadi akal yang dimaksud ibn Thufail adalah gerak jiwa yang
dinamis, bukan statis, yang dapat dikomunikasikan dengan dunia materi.[8]
Dari
synopsis karya ibn Thufail itu dapat ditarik kesimpulan bahwa akal menepati
peranan penting dalam kehidupan kita dan menempati diposisi paling tinggi. Hal itu tercermin dari seorang sosok hayy
ibn Yaqdzan yang dengan keterasingannya dari masyarakat dan tanpa sentuhan
pengalama-pengalaman akademis dan ajaran-ajaran dari luar, ia mampu memahami
kebenaran, dan mampu memahami kematian rusa yang tanpa sebab serta mampu
mengetahui Realitas Yang Maha Tertinggi. Dengan demikian akal merupakan sumber
dari ilmu – ilmu pengetahuan yang
merupakan produk dari kegiatan berfikir dan obor yang menerangi
kehidupannya.
Bagi
ibn Thufail ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan dengan indera, karena
pengetahuan bukan hanya proses pemahaman saja.[9] Dan pada sisi lain di sebutkan bahwa hayy
ibn Yaqdzan akhirnya mencapai pada
pengetahuan tentang wujud Mutlak yang sepenuhnya bersifat immaterial. Dengan
kejernihan, keluhuran dan ketidak fanaan jiwanya yang juga terkandung di dalamnya
essensi dirinya. Yang kemudian ditemukan
tiga akibat dari tiga karakter manusia. Pertama: akibat karakter
impulsive dan kebinatangannya, kedua: akibat dengan spritualnya, mampu
berhubungan dengan yang di langi, dan ketiga: akibat kekudusan jiwanya,
manusia berhubungan dengan Wujud Mutlak.[10]
Dalam
gerak yang lebih dalam lagi akal sanggup untuk mencapai sesuatu yang tak
berawal dan tak berakhir yang meliputi segalanya, yang dalam gerak hendak
memperlihatkan dirinya itu berbagai pengertian tentang kesudahan adalah momen
saja. Oleh karena itu watak daras akal itu tidak satatis, tetapi dinamis,
beragerak dan menampakkan inti tak berawal dan tak berakhirnya itu pada
waktunya.
- Konsep Keharmonisan Akal dan Wahyu
Masalah
akal sudah banyak mengundang perdebatan antar filosof muslim, dimana hal itu
juga banyak mengundang perbedaan pendapat. Begitu pula dengan konsep wahyu,
namun para filosof berkeyakinan bahwa antara akal-dan wahyu ada keserasian dan
keharmonisan. Begitu juga menurut ibn Thufail, adalah penulis roman hayy ibn
Yaqdzan yang terkandung di dalamnya tentang keharmonisan antara akal dan
wahyu.
Sebagaiman
yang telah di jelaskan di atas bahwa akal menurut ibn Thufail adalah daya
berfikir (al-Quwwah an-natiqah), yang dengan sendirinya mampu memahami
kebenaran, yang mana tokohnya adalah hayy ibn Yaqdzan sedangkan wahyu
adalah pengetahuan Tuhan yang di sampaikan kepada para nabi, kemudian
diteruskan kepada manusia sebagai pegangan hidup, dan tokohnya adalah Absal.
Permasalahan
pokok yang berkembang pada pembahasan ini yaitudaya jangkau akal dan fungsi wahyu
terhadap permasalahan pokok agama yaitu adanya Tuhan serta kebaikan dan
kejahatan. Dan dari dua masalah pokok
ini menjadi empat inti pokok yaitu mengetahui Tuhan dan kewajiban
mengetahui-Nya, serta mengetahu perbuatan baik dan jahat serta kewajiban mengetahuinya.
Permasalahan ini banyak mengundang pertentangan antara aliran teologi Islam.[11] Namun
sikap ibn Thufail dalam menanggapi masalah di atas sangat bijaksana, walaupun
ia menempatkan akal pada posisi paling atas namun ia juga hidup di budaya
wahyu, yang nantinya akan ditemukan
keharmonisan antara keduanya dalam karyanya, yang melambangkan akal dengan hayy
ibn Yaqdzan dan wahyu dengan Absal, yang kedua bertemu di titik yang sama
yaitu kebenaran.
Jadi
antara akal dan wahyu terdapat hubungan yang erat. Kehadiran wahyu merupakan
suatu pelengkap dan petunjuk bagi akal.
Adapun pengetahuan yang diperoleh akal dengan pengetahuan yang diperoleh
wahyu, menurutnya pengetahuan yang diperoleh akal di bawah pengetahuan
yang diperoleh wahyu, karena pada
dasarnya wahyu diturunkan sebagai petunjuk, dan kebenaran akal bersifat
relative sedangkan kebenaran wahyu bersifat mutlak.
- Kesimpulan
Dari pemaparan konsep akal dan relevansinya akal
dengan wahyu yang digambarkan oleh ibn Thufail dan karya Roman fiktifnya "
hayy ibn Yaqdzan" dapat ditarik kesimpulan sebagai beriku:
a.
Menurut
ibn Thufail akal adalah al-quwwah an-natiqoh, jiwa yang berfikir atau
daya insani yang brsifat dinamis dan selalu berfikir dan berdzikir untuk
memahami realitas alam dan dirinya sehingga mencapai pada tingkat yang lebih
tinggi yaitu mengetahui Yang Mutlak.
b.
ibn
thufail berpendapat bahwa Ada keharmonisan dan hubungan erta yang tidak dapat
dipisahkan antara akal dan wahyu, dimana antara satu dan lainnya saling
memenuhi, seperti kerelatifan akal dalam memperoleh pengetahuan membutuhkan
bimbingan wahyu untuk mengecek pada dataran kebenaran.
DAFTAR PUSTAKA
Kant mengatkan yang dikutip
oleh C. A van Peurson, Orintasi di
AAlam Filsafat, Dick Handoko, pen, Jakarta: PT. Gramedia, 1988, hlm. 25.
Madjid Fakhry, Sejarah
Filsafat Islam: Sebuah Peta kronologis, Bandung:
Mizan, 2002,
Harun Nasution. Akal dan Wahyu dalam Islam,
Jakarta: UI Press, 1986, hlm. 86.
Ahmad Fuad al-Ahwani. Filsafat
Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995, hlm. 73. terj. Pustaka
Firdaus.
Bakhtiar Husain Siddiqy,
"Ibn Thufail" dalam M. M Syarif, ed., Para Filosof Muslim, Rahmani
Astuti, Bandung: Mizan, 1985, hlm 173.
Wadi
Asy Juga Disebut Oleh De Boer Sebagai Qadis Atau Guadix.
A M Syaifuddin, Desekularisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi,
Bandung: Mizan, 1998. hlm. 32-33.
[1] A. M. Syaifuddin, Desekularisasi
Pemikiran: Landasan Islamisasi, Bandung: Mizan, 1998. hlm. 32-33.
[2]
Untuk lebih jelasnya perintahtah Allah atas
penggunaan akal dan keharusan manusia sebagai makhluknya untuk memanfaatkannya
lihat terjemahan al-Qur'an (QS 16:11)
dan QS 16:12)
[3] Ahmad Fuad al-Ahwani. Filsafat Islam, Jakarta:
Pustaka Firdaus, 1995, hlm. 73. terj. Pustaka Firdaus.
[4] Bakhtiar Husain Siddiqy, "Ibn
Thufail" dalam M. M Syarif, ed., Para Filosof Muslim, Rahmani Astuti, Bandung:
Mizan, 1985, hlm 173.
[7]
dalam leteratur lain, dijelaskan bahwa hayy
ibn Yaqdzan dilambangkan sebagai anak manusia yang dengan akalnya dan
dibarengi dengan kesucian jiwanya, ia mampu membedakan yang baik dan yang
buruk, dan mampu memecahkan masalah dalam kehidupan, hingga pada puncaknya
mampu menemukan al-haqiqat al-'Ulya.
[9] Kant mengatkan yang dikutip oleh C. A van
Peurson, Orintasi di AAlam Filsafat,
Dick Handoko, pen, Jakarta: PT. Gramedia, 1988, hlm. 25. "Akal budi tak
dapat menyerap sesuatu dan panca indra tak dapat memikirkan sesuatu; hanya bila
kedua-duanya bergabung timbullah pengetahuan, mencerap sesuatu tanpa dibarengi
akal budi sama dengan kebetulan, dan pikiran tanpa isi sama dengan
kehampaan"
[10] Madjid Fakhry, Sejarah Filsafat
Islam: Sebuah Peta kronologis, Bandung: Mizan, 2002, hlm. 105. terj.
Zaimul Am. Dan Dari ketiga akibat itu ada tiga tugas pula yang harus di
jalaninya: pertama: sebagai bagian dari binatang ia harus memenuhi
kebutuhan fisiknya agar bisa bertahan sehingga mampu mewujudkan tujuan
utamanya, yakni merenungi Tuhan, kedua: sebai makhluk spiritual dan
intektual ia harus merenungi keindahan dan keteraturan alam, dam ketiga:
sebagai makhluk yang dekat dengan Tuhan maka ia dalam berkontemplasi sadar akan
keterbatasannya, karena jiwa dalam hal itu takkan bisa menghilangkan
kesadarannya tentang identitas dirinya dan keakuannya.
[11]
Menurut Mu'tazilah keempat
permasalahan di atas dapat diketahui oleh akal, sedangkan As-Ariyah berpendapat
bahwa hanya satu diantara keempat permasalahan di atas yang dapat diketahu oleh
akal yaitu yaitu adanya Tuhan sedangkan ketiganya dapat diketahui melalui
wahyu. Dan sangat tanpak bahwa Mu'tazilah memberikan porsi teratas pada akal,
karena baginya bahwa akal mampu mengetahuinya walaupun tanpa bantuan wahyu.
Cara Nabi Muhammad Mendidik Anak
14 Cara Nabi Muhammad Mendidik Anak
1.
Rasulullah
senang bermain-main (menghibur) dengan anak-anak dan kadang-kadang beliau
memangku mereka. Beliau menyuruh Abdullah, Ubaidillah, dan lain-lain dari
putra-putra pamannya Al-Abbas r.a. untuk berbaris lalu berkata, “ Siapa yang
terlebih dahulu sampai kepadaku akan aku beri sesuatu (hadiah).”merekapun
berlomba-lomba menuju beliau, kemudian duduk di pangkuannya lalu Rasulullah
menciumi mereka dan memeluknya.
2.
Ketika
ja’far bin Abu Tholib r.a, terbunuh dalam peperangan mut’ah, Nabi Muhammad SAW,
sangat sedih. Beliau segera datang ke rumah ja’far dan menjumpai isterinya Asma
bin Umais, yang sedang membuat roti, memandikan anak-anaknya dan memakaikan
bajunya. Beliau berkata, “Suruh kemarilah anak-anak ja’far. Ketika mereka
dating, beliau menciuminya. Sambil meneteskan air mata. Asma bertanya kepada
beliau karena telah mengetahui ada musibah yang menimpanya.
3.
“Wahai
rasulullah, apa gerangan yang menyebabkan anda menangis? Apakah sudah ada
beritayang sampai kepada anda mengenai suamiku Ja’far dan kawan-kawanya?”
Beliau menjawab, “Ya benar, mereka hari di timpa musibah.” Air mata beliau
mengalir dengan deras. Asma pun menjerit sehingga orang-orng perempuan
berkumpul mengerumuninya. Kemudian Nabi Muhammad SAW. kembali kepada
keluarganya dan beliau bersabda, “janganlah kalian melupakan keluarga ja’far,
buatlah makanan untuk mereka, kerena sesungguhnya mereka sedang sibuk
menghadapi musibah kematian ja’far.”
4.
Ketika
Rasulullah melihat anak Zaid menghampirinya, beliau memegang kedua bahunya
kemudian menagis. Sebagian sahabat merasa heran karena beliau menangisi orang
yang mati syahid di peperangan Mut’ah. Lalu Nabi Muhammad SAW. pun menjelaskan
kepada mereka bahwa sesungguhnya ini adalah air mata seorang kawan yang
kehilangan kawannya.
5.
Al-Aqraa
bin harits melihat Nabi Muhammad SAW. mencium Al-Hasan r.a. lalu berkata,
“Wahai Rasulullah, aku mempunyai sepuluh orang anak, tetapi aku belum pernah
mencium mereka.” Rasulullah bersabda, “Aku tidak akan mengangkat engkau sebagai
seorang pemimpin apabila Allah telah mencabut rasa kasih sayang dari hatimu.
Barang siapa yang tidak memiliki rasa kasih sayang, niscaya dia tidak akan di
sayangi.”
6.
Seorang
anak kecil dibawa kepada Nabi Muhammad SAW. supaya di doakan dimohonkan berkah
dan di beri nama. Anak-anak tersebut di pangku oleh beliau. Tiba-tiba anak itu
kencing, lalu orang-orang yang melihatnya berteriak. Beliau berkata, “jangan di
putuskan anak yang sedang kencing, buarkanlah dia sampai selesai dahulu
kencingnya.”
Beliau pun berdoa dan memberi nama, kemudian membisiki orang tuanya supaya jangan mempunyai perasaan bahwa beliau tidak senang terkena air kencing anaknya. Ketika mereka telah pergi, beliau mencuci sendiri pakaian yang terkena kencing tadi.
Beliau pun berdoa dan memberi nama, kemudian membisiki orang tuanya supaya jangan mempunyai perasaan bahwa beliau tidak senang terkena air kencing anaknya. Ketika mereka telah pergi, beliau mencuci sendiri pakaian yang terkena kencing tadi.
7.
Ummu
Kholid binti kho;id bin sa’ad Al-Amawiyah berkata, “Aku beserta ayahku
menghadap Rasululloh dan aku memakai baju kurung (gamis) berwarna kuning.
Ketika aku bermain-main dengan cincin Nabi Muhammad SAW. ayahku membentakku,
maka beliau berkata, “Biarkanlah dia.” Kemudian beliau pun berkata kepadaku,
“bermainlah sepuas hatimu, Nak!
8.
Dari
Anas, diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW. selalu bergaul dengan kami. Beliau
berkata kepada saudara lelakiku yang kecil, “Wahai Abu Umair, mengerjakan apa
si nugair (nama burung kecil).”
9.
Nabi
Muhammad SAW. melakukan shalat, sedangkan Umamah binti zainab di letakkan di
leher beliau. Di kala beliau sujud, Umamah tersebut di letakkanya dan bila
berdiri di letakkan lagi dil leher beliau. Umamah adalah anak kecil dari Abu
Ash bin Rabigh bin Abdusysyam .
10. Riwayat yang lebih masyhur menyebutkan, Rasulullah perna lama
sekali sujud. dalam shalatnya, maka salah seorang sahabat bertanya,” Wahai
Rasulullah, sesungguhnya anda lama sekali sujud, hingga kami mengira ada
sesuatu kejadian atau anda sedang menerima wahyu. Nabi Muhammad SAW, menjawab,
“Tidak ada apa-apa, tetaplah aku di tunggangi oleh cucuku, maka aku tidak mau
tergesah-gesah sampai dia puas.” Adapun anak yang di maksud ialah Al-Hasan atau
Al-Husain Radhiyallahu Anhuma
11. Ketika Nabi Muhammad SAW. melewati rumah putrinya, yaitu sayyidah
fatimah r.a., beliau mendengar Al-Husain sedang menangis, maka beliau berkata
kepada Fatimah, “Apakah engkau belum mengerti bahwa menangisnya anak itu
menggangguku.” Lalu beliau memangku Al-Husain di atas lehernya dan berkata, Ya
Allah, sesungguhnya aku cinta kepadanya, maka cintailah dia.
Ketika Rasulullah SAW. sedang berada di atas mimbar, Al-Hasan
tergelincir. Lalu beliau turun dari mimbar dan membawa anak tersebut.
12. Nabi Muhammad SAW. sering bermain-main dngan Zainab binti Ummu
Salamah r.a. beliau memanggilnya, “Hai Zuwainib, hai Zuwainib berulang-rulang.”
13. Nabi Muhammad SAW. sering berkunjung ke rumah para sahabat Anshar
dan memberi salam pada anak-anaknya serta mengusap kepala mereka.
14. Diriwayatkan, pada suatu hari raya Rasulullah SAW. keluar rumah
untuk menunaikan shalat ID. Di tengah jalan, beliau melihat banyak anak kecil
sedang berman dengan gembira sambil tertawa-tawa. Mereka mengenakan baju baru,
sandal mereka pun tampak mengkilap. Tiba-tiba pandangan beliau tertuju pada
salah seorang yang sedang duduk menyendiri dan sedang menangis tersedu-sedu.
Bajunya kompang-kamping dan kakinya tiada bersandal. Rasulullah SAW, pun
mendekatinya , lalu di usap-usap anak itu mendekapya ke dadabeliau seraya
bertanya, “mengapa kau menangis, Nak .” Anak itu hanya menjawab, “biarkanlah
aku sendiri.” Anak itu belum tahu bahwa orang yang ada di hadapannya itu adalah
Rasulullah SAW. yang terkenal sebagai pengasih. “Ayahku mati dalam suatu
pertempuran bersama Nabi,” lanjut anak itu. “Lalu ibuku kawih lagi. Hartaku
habis di makan suami ibuku, lalu aku di usir dari rumahnya. Sekarang, aku tak
mempunyai baju baru dan makanan yang enak. Aku sedih meihat kawan-kawanku
bermain dengan riangnya itu.”
Baginda Rasulullah SAW. lantas membimbing anak tersebut seraya
menghiburnya, “Sukakah kamu bila aku menjadi bapakmu, Fatimah menjadi kakakmu,
Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai pamanmu, Hasan dan Husain menjadi saudaramu?”
Anak itu segera tahu dengan siapa ia berbicara. Maka langsung ia berkata,
“mengapa aku tak suka, ya Rasulullah?” kemudian, Rasulullah SAW, pun membawa
anak itu ke rumah beliau, dan di berinya pakaian yang paling indah,
memandikannya, dan memberinya perhiasan agar ia tampak lebih gagah, lalu
mengajak makan.
Sesudah itu, anak itu pun keluar bermain dengan kawan-kawannya yang lain, sambil tertawa-tawa sambil kegirangan. Melihat perubahan pada anak itu, kawan-kawannya merasa heran lalu bertanya, “Tadi kamu menagis, mengapa sekarang bergembira?” jawab anak itu, tadi aku kelaparan, sekarang sudah kenyang. Tadi aku tak mempunyai pakaian, sekarang aku mempunyainya, tadi aku tak punya bapak, sekarang bapakku Rasulullah dan ibuku Aisyah.” Anak-anak lain bergumam, Wah, andaikan bapak kita mati dalam perang.” Hari-hari berikutnya, anak itu tetap di pelihara, oleh Rasulullah SAW. hingga beliau wafat.
Jumat, 16 Mei 2014
50 Kebaikan kecil yang bisa kita lakukan
1. Bantu ibu beres-beres di pagi hari.
2. Siram tanaman di rumah sepulang sekolah/kuliah/kerja.
3. Siapkan sarapan buat keluarga.
4. Buat kartu ucapan untuk menyemangati hari-hari orang rumah.
5. Pijitin pundak ayah waktu pulang dari kantor atau iseng pijitin pundak teman.
6. Traktir gebetan makan di kantin.
7. Kasih kado kecil kayak cokelat atau minuman kesukaan dia.
8. Ajak si dia ke tempat favoritnya.
9. Memuji si dia karena sudah melakukan berbagai kebaikan selama ini.
10. Nulis ungkapan perasaan kita lewat surat cinta buat si dia.
11. Berkunjung ke rumah kakek dan nenek sendirian.
12. Ngajak sepupu yang sudah lama enggak ketemuan hangout bareng.
13. Buatkan kue atau cookies buat om dan tante kita.
14. Ajak sepupu atau keponakan kita yang masih kecil main di taman.
15. Bawain makanan buat keluarga jauh.
16. Iseng nyamperin tetangga cuma buat nanya kabar.
17. Ngasih bunga buat tiap orang yang lewat di depan rumah kita.
18. Kirim makanan buatan kita untuk tetangga sebelah rumah.
19. Kasih buku bekas buat pemulung yang kebetulan lewat.
20. Request lagu tambahan buat pengamen dan ngasih dia uang lebih.
21. Menyapa setiap orang yang kita tau tapi enggak kita kenal.
22. Ngasih tempat duduk buat orang lain karena kita enggak lagi terlalu capek.
23. Menyapa semua teman sekelas/sekantor kita dengan SMS atau chat ucapan selamat pagi penyemangat.
24. Membelikan teman kita barang yang selama ini dia pengin tapi enggak pernah sempat kebeli.
25. Mengirim kartu pos buat teman lama yang sudah enggak pernah kontak lagi.
26. Ngajak teman lama kita ketemuan dan mengundangnya ke rumah.
27. Berkunjung ke sekolah lama dan menyapa guru-guru yang pernah mengajar kita.
28. Menyumbang buku-buku asyik buat perpustakaan sekolah lama ataupun sekolah kita yang sekarang.
29. Menyapa penjaga kantin dan memberikan bayaran sebagai tip karena selama ini dia sudah baik sama kita.
30. Membantu penjaga kantin sekolah/OB sebisa kita.
31. Mendekor ulang kamar adik cowok/saudara cowok kita yang super berantakan.
32. Membuatkan adik atau kakak kita makanan yang dia suka.
33. Mengajari adik atau kakak kita hal yang selama ini mereka minta ajarkan dari kita.
34. Membuatkan lagu spesial buat orang-orang terdekat kita.
35. Iseng membelikan makanan buat pengemis di jalan.
36. Menanam tanaman sebagai ucapan terima kasih buat alam.
37. Menjemput adik kecil kita ke sekolah menggantikan ibu kita.
38. Tersenyum lebar dan berlaku baik sama pelayan di kafe atau restoran dan bersikap super friendly.
39. Membuatkan pesta kejutan buat teman yang baru putus buat menghiburnya.
40. Bikin pesta ulang tahun kecil-kecilan buat teman meskipun cuma bermodalkan cupcake dan lilin.
41. Membeli buku dan memberikannya buat teman kita yang suka banget baca.
42. Bikin kado handmade buat wali kelas kita karena selama ini sudah baik sama kita.
43. Ngasih mixtape buat orang-orang yang paling kita sayangi.
44. Pergi ke luar kota cuma buat bertemu saudara yang kita kangenin karena dia lagi ulang tahun.
45. Bantu orangtua kita mencuci dan menjemur baju di akhir pekan.
46. Kasih puisi romantis buat gebetan secara tiba-tiba.
47. Nawarin bantuan buat orang terdekat karena kita memang lagi enggak ada kerjaan.
48. Ngebantuin adik mengerjakan PR waktu dia kesulitan.
49. Kasih pelukan buat sahabat kita meskipun tanpa alasan.
50. Kunjungan dadakan buat pacar waktu dia baru saja bilang pengin ketemu.
2. Siram tanaman di rumah sepulang sekolah/kuliah/kerja.
3. Siapkan sarapan buat keluarga.
4. Buat kartu ucapan untuk menyemangati hari-hari orang rumah.
5. Pijitin pundak ayah waktu pulang dari kantor atau iseng pijitin pundak teman.
6. Traktir gebetan makan di kantin.
7. Kasih kado kecil kayak cokelat atau minuman kesukaan dia.
8. Ajak si dia ke tempat favoritnya.
9. Memuji si dia karena sudah melakukan berbagai kebaikan selama ini.
10. Nulis ungkapan perasaan kita lewat surat cinta buat si dia.
11. Berkunjung ke rumah kakek dan nenek sendirian.
12. Ngajak sepupu yang sudah lama enggak ketemuan hangout bareng.
13. Buatkan kue atau cookies buat om dan tante kita.
14. Ajak sepupu atau keponakan kita yang masih kecil main di taman.
15. Bawain makanan buat keluarga jauh.
16. Iseng nyamperin tetangga cuma buat nanya kabar.
17. Ngasih bunga buat tiap orang yang lewat di depan rumah kita.
18. Kirim makanan buatan kita untuk tetangga sebelah rumah.
19. Kasih buku bekas buat pemulung yang kebetulan lewat.
20. Request lagu tambahan buat pengamen dan ngasih dia uang lebih.
21. Menyapa setiap orang yang kita tau tapi enggak kita kenal.
22. Ngasih tempat duduk buat orang lain karena kita enggak lagi terlalu capek.
23. Menyapa semua teman sekelas/sekantor kita dengan SMS atau chat ucapan selamat pagi penyemangat.
24. Membelikan teman kita barang yang selama ini dia pengin tapi enggak pernah sempat kebeli.
25. Mengirim kartu pos buat teman lama yang sudah enggak pernah kontak lagi.
26. Ngajak teman lama kita ketemuan dan mengundangnya ke rumah.
27. Berkunjung ke sekolah lama dan menyapa guru-guru yang pernah mengajar kita.
28. Menyumbang buku-buku asyik buat perpustakaan sekolah lama ataupun sekolah kita yang sekarang.
29. Menyapa penjaga kantin dan memberikan bayaran sebagai tip karena selama ini dia sudah baik sama kita.
30. Membantu penjaga kantin sekolah/OB sebisa kita.
31. Mendekor ulang kamar adik cowok/saudara cowok kita yang super berantakan.
32. Membuatkan adik atau kakak kita makanan yang dia suka.
33. Mengajari adik atau kakak kita hal yang selama ini mereka minta ajarkan dari kita.
34. Membuatkan lagu spesial buat orang-orang terdekat kita.
35. Iseng membelikan makanan buat pengemis di jalan.
36. Menanam tanaman sebagai ucapan terima kasih buat alam.
37. Menjemput adik kecil kita ke sekolah menggantikan ibu kita.
38. Tersenyum lebar dan berlaku baik sama pelayan di kafe atau restoran dan bersikap super friendly.
39. Membuatkan pesta kejutan buat teman yang baru putus buat menghiburnya.
40. Bikin pesta ulang tahun kecil-kecilan buat teman meskipun cuma bermodalkan cupcake dan lilin.
41. Membeli buku dan memberikannya buat teman kita yang suka banget baca.
42. Bikin kado handmade buat wali kelas kita karena selama ini sudah baik sama kita.
43. Ngasih mixtape buat orang-orang yang paling kita sayangi.
44. Pergi ke luar kota cuma buat bertemu saudara yang kita kangenin karena dia lagi ulang tahun.
45. Bantu orangtua kita mencuci dan menjemur baju di akhir pekan.
46. Kasih puisi romantis buat gebetan secara tiba-tiba.
47. Nawarin bantuan buat orang terdekat karena kita memang lagi enggak ada kerjaan.
48. Ngebantuin adik mengerjakan PR waktu dia kesulitan.
49. Kasih pelukan buat sahabat kita meskipun tanpa alasan.
50. Kunjungan dadakan buat pacar waktu dia baru saja bilang pengin ketemu.
Rabu, 30 April 2014
Menerawang Ending dari Kasus Korupsi
Korupsi...
Kata ini tidakah asing bagi setip orang di Indonesia
Karena negara ini sedang boming dengan penyakit itu
Hal ini tidak lepas dari sejarah yang ada dinegara ini
Berawal dari masa penjajahan sampai saat ini
VOC pada masa itupun tidak lepas dari penyakit ini
Masa pemerintahan OrLa pun terjangkit
Apalagi pada masa OrBa pun tidak mau ketingalan
Setelah OrBa tumbang masuklah masa yang katanya masa Reformasi
Penyakit itu tidak mau lepas dari tubuh bangsa ini
Seolah tubuh bangsa ini menjadi wadah yang nyaman untuk penyakit ini
Seakan ada indikasi "simbiosis mutulisme" diantara mereka
Namun apakah iya negara ini akan selamanya begini
Yang kaya makin kaya dan yang miskin semakin menjerit
Sebenarnya ada ngak si yang bisa memberanggus penyakit ini?
Apa ya mungkin harus selamanya negara ini hidup seperti ini?
Apa tidak ada keinginan untuk lebih maju?
Sampai kapan akan terus begini?
Apa mungkin ini penyakit "keturunan" sejarah
Kita bisa melihat sekan seperti itu
Ada pihak yang mau menyembuhkan dijegal
Ada yang mau berterus terang di bungkam
Apakah ini yang dinamakan demokakrasi?
Kebebasan berbicara jujurpun seakan "tidak boleh"
Hal itu bisa terlihat saat ini
Seakan kasus yang muncul sudah bisa ditebak endingnya[1]
Mari kita tengok kasus yang lumayan menghebohkan media
Kasus G.T, endingnya seperti itu
Sebelum kasus GT ada kasus bank Centuri
Hingga kini kasusnya msih Abu-abu
Lalu kasus M.N nasibnya seolah hampir sama dengan kasus GT
Hingga kini nama-nama yang disebutkannya belum diperiksa
Nama-nama yang disebut malah sekan tenang-tanang
Dan masih sempat tersenyum sambir berkata"itu semua tidak
benar"
Kasus N*n*npun sepertinya akan sama nasibnya seperti kasus pendahulunya
Namun kita lihat saja seperti apa tindak lanjutnya
Apakah akan sama endingnya dengan kasus pendahulunya?
Atau akan terbuka tabir kepalsuan dinegeri ini
Kita tunggu hasilnya dalam satu bulan ini.
Yogyakarta, 25 Desember 2011
[1] Coretan ini aku goreskan pada
saat aku jenuh dengan nasib bangsa ini. Setaip hari hanya disuguhi berita
korupsi yang seakan tidak ada habisnya. “Hilang” satu tumbuh lagi. Entah
hilangnya karna dihilangkan atau memang sudah “selesai”. Seolah tidak ada hentinya
kasus yang sejenis tumbuh dan mengakar pada bengsa ini. Alasannya sudah jelas,
berrawal dari perkulihan sudah belajar korupsi, tapi mereka teriak anti
korupsi. Sungguh munafik, didepan bilang tidak dibelakang mana bagian saya.
Seperti ini nantinya jika sudah menjadi pejabatpun mereka akan melakukan hal
yang sama seperti apa yang pernah dilakukannya pada saat kuliah. Yach begitulah
nasib bangsa ini.
Langganan:
Postingan (Atom)