Kamis, 24 April 2014

Sambutlah Dunia Barumu...



Hari ini Sabtu tangal 17 Desember 2011
Sebagian teman meresmikan dirinya menjadi sarjana[1]
Sebuah gelar yang delimatis
Antara "senang" dan "sedih"
Wisuda adalah awal dari perjuangan
Perjuangan yang sesunguhnya sudah menanti
Kekejaman dunia sosial akan terasa menyengat pada dinding emosi
Kejamnya kehidupan sosial akan menguji pendirian
Piliahnya adalah tetap Idialisme atau kompromi
Sebuah pilihan yang HARUS dipilih
Jika tetap bertahan dengan idialisme tentu harus belajar untuk menunggu
Namun jika memilih pilihan yang kedua hasilnya akan lain
Memang dunia sosial tidaklah seindah yang kita dapatkan pada saat dibangku perkuliahan
Kita akan merasakan betapa sulitnya mencari sehelai uang kertas
Pada saat itu kita akan merasakan betapa susahnya orang tua kita dalam mencarinya
Kita diperkuliahan dengan mudah untuk menghabiskan
Baik dengan cara belanja, main-main, atau sejenisnya
Sahabat-sahabatku yakinlah pada pilihan yang akan kalian pilih
Keyakinan jika pilihan kalian akan membawa perubahan
Akupun akan segera menemui kalian didunia sosial
Selamat berjuang kawan....

Yogyakarta,17 Desember 2011 09:19




[1] Coretan ini aku buat sebelum aku berangkat untuk memberikan “selamat” (sebenarnya sih inginku mengucapkan “turut berduka” namun aku tidak kuasa) kepada temen-temenku yang wisuda.

Dalam Penderitaan ada Kebahagiaan



Hari ini 13 Desember 2011
Hari yang bersejarah bagiku
Hari yang hampir 5,5 tahun aku tunggu
Akhirnya akupun munaqosah[1]
Setelah melewati perjalanan penulisan yang panjang
Aku ingin merasakan debaran jatung yang teman-temanku telah rasakan
Aku hanya bisa menyaksikan ketika temanku menghadapi 3 penguji
Kini hari ini aku akan merasakan hal yang sama
Aku harus berhadapan dengan 3 penguji
Aku hanya bisa berusaha dan berdo’a
Semoga aku bisa melewati ujian ini
Dan mendapatkan hasil yang maksimal
Amin Ya Allah…
Namun di hari ini aku tidak bisa meminta restu dari orang tuaku
Baik orang tua asli maupun orang tua angkat
Aku sedang dililit masalah perekonomian
Saat aku menuliskan ini aku tidak mempunyai uang walaupun 1000
Dan pulsakupun minim semua
Pulsa yang aku punya semua dibawah 100
Yach semoga dengan keadaan yang begitu tidak membuatku menjadi lemah
Aku harus tetap semangat
Hari esok menunggumu
Aku pasti bisa…!!!

Yogyakarta,13 Desember 2011




[1] Coretan ini aku goreskan sebelum aku melaksanakan ujian munaqosah atau sidang skripsiku. Pada saat itu aku dalam keadaan sedang kurang finansial, (itu yang aku sedihkan) namun disisi lain aku merasa gembira”karena ini telah lama aku tunggu”.

Dunia Berbingkai Kemunafikan



Tirai malam telah diturunkan
Peluk mesra cahaya rembulan 
Menemaniku menikmati indahnya langit tak berawan
Pada kesendirian aku ucapkan selamat datang dalam dunia kenikmatan sementara
Setiap helai berahi yang telah dinikmati duniawi
Hanya membawa nestafa yang dilema
Kebutuhan dan tiadaan
Mengalir beriringgan menunganggi hamparan kemunafikan
Dalam setiap jengkal yang terlewatkan
Hati nurani dan kebutuhan jasmani[1]
Bercinta pada kemunafikan belaka
Apa arti kejujuran jika berselimut pada kemunafikan yang kian menggakar
Rasa malu dan keinginan menjadi benalu menjadi satu
Terbingkai indah pada sketsa wajah yang tak bertuan
Begitulah tingkah polah bocah yang seakan tak  merasa bersalah
Dengan apa yang ia kerjakan dalam dunia berbingkai kemunafikan

Yogyakarta, 11 Desember 2011




[1] Coretan ini tergores begitu saja. Berawal dari kamar kecil yang penuh inspirasi. Goresan ini mengalir begitu saja, seakan tiada halangan yang menghadang.

Menghibur Penatku



Terduduk aku…
Pada bibir sungai yang airnya mulai menguning
Menikmati belaian angin yang seakan menusuk
Aku arahkan mataku kedepan ada bintang yang mengantung disetiap tempat untuk berkunjung
Sayup-sayup terdengar alunan sholawat
Mengigatkan aku untuk bertobat
Mengajakku menuju arah kiblat
Aliran sungai seakan membuatku terbuai
Pada kisah silam yang telah lama aku pendam[1]

Yogyakarta, 1 Desember 2011



[1] Coretan ini aku goreskan ketika aku main ke pingiran kali code bersama 4 temenku (Dyah, Ria, Fauzi dan Zamir). Pada saat baru jadi coretan ini sempat ditertawakan, karena tulisanku yang tidak karuan. Nulis menguning kok menguning. Hemmmmmm… begitulah

Mencoba Menembus Tebalnya Kebisuannya



Sore ini...
Dengan cuaca yang tak begitu cerah
Dan seringnya aku menguap
Menahan kantukku yang mulai beranjak
Aku ingin menulis tentang seseorang
Namun imaginasiku belum sampai
Aku belum bisa menyibakkan awan kelam
Pada imaginasiku yang tak lagi cerah
Imaginasiku belum mampu
Untuk melukiskan perasaanku
Namun aku tak mau memaksakan
Inspirasiku belum mampu menembus tebalnya kebisuannya
Sering aku mencoba menembusnya
Lagi-lagi imaginasiku menabrak kokohnya tembok kebisuannya
Aku hanya menunggu seraya mencoba
Menembus tebalnya kebisuannya

Yogyakarta, 29 November 2011